| Di atas sana, satu per satu, persaan ku, malu malu, berserakan... |
Sunday, July 5, 2015
"yang pertama. Seringkali yang pertama itu sukar untuk dilupakan.
Sepertimana saat dua jiwa bertemu buat pertama kalinya.
Sepertimana saat jatuhnya hujan pertama selepas terik yang panjang.
Dan sepertimana saat pertama kalinya jiwa itu di sapa hidayah dan sentuhan cinta dari Tuhan."
_gadisoktober
Untuk tiap kali Ramadhan, selalu ku terkenangkan Ramadhan 1432H
Waktu tidak akan berulang sama seperti yang kita harapkan ia terjadi.
dan hidup bukanlah seperti kaset
yang bisa kita ulang untuk menjalani momen momen yang sama berkali kali
Lalu, sementara masih ada,
tuliskanlah ia, karena, orang orang selalu berpesan,
Jika mahu sesuatu itu hidup lebih lama, tuliskan lah ia,
-HandsDown-
Tuesday, June 30, 2015
"This was late one night, when I couldn't sleep." She rubbed her hand over the bark as if unearthing an old treasure. "Ah. Still there."
I leaned in. The word PLEASE had been carved into the side. Small crooked letters. You had to look carefully, but there it was. PLEASE.
"What is it?"
"A prayer."
"For me?"
She nodded
"On a tree?"
"Trees spend all day looking up at God."
__For One More Day By Mitch Albom
People tend to think of themselves as a burden instead of a wish granted.
If only you knew
"Bersabarlah, karena kesabaran adalah hal terbaik yang bisa kita perjuangkan saat ini."_Kurniawan Gunadi
بسم الله الرحمن الرحيم
Dahulu,
ada seseorang yang aku sering perhati dari jauh.
Selalu akan ada suatu waktu dimana dia akan berteleku; kadang tangannya menadah, kadang juga wajahya sahaja yang tertunduk. Kadang suaranya perlahan teresak esak menahan tangis, kadang sayu wajahnya tenang, hanya air mata yang mengalir, dibiarkannya ia jatuh, rebah bersama sujud.
Di waktu lain, dia kelihatan begitu gembira berhiaskan senyuman yang jarang jarang lekang.
Ingin sekal aku tahu apa yang di doakannya.
Wahai, biarpun aku tidak tahu, jauh sekali mengerti, namun aku harap--
*oh sekejap*
Biar sahaja doaku untukmu berada diantara aku dan Tuhanku.
Do'a itu rahsia bukan?
Tempat dimana harapan bukan lagi jauh tergantung seperti bintang bintang. Malah mecapainya sahaja sudah begitu dekat. Tempat dimana kita merasa segalanya begitu dekat. Dan sayangku, suatu saat, segalanya akan terjawab. Maka demi waktu, yakinlah dan bersabarlah.
"Seven billion people on this planet,
seven billion smiles,
and yours still one of my favourite"_matahary
-HandsDown-
"Adakalanya, perhubungan yang mudah telah menelan indahnya sebuah rindu"_Hafizul Faiz
بسم الله الرحمن الرحيم
Ketenangan itu hadir dalam berbagai rupa.
Usai solat Isya', aku memandang ke kanan, ada sosok yang menghampiri, duduk disebelah.
mata ku kembali kan tunduk.
apa kau pernah, merasa teramat tenang, hinggapun secarik senyum tidak berani kau kudratkan, takut takut mengocak kehadiran tenang.
Seperti sedang berada dalam isterehat sang tenang.
-HandsDown-
Monday, January 19, 2015
1855
"Seringkali saya mengingatkan diri sendiri,
tentang pentingnya mencintai sesuatu dengan sederhana.
Namun kesederhanaan itu hakikatnya belum cukup andai ia tidak diikuti dengan kebijaksanaan."
_matahary
"Belajar agar cinta kita berhenti di titik ketaatan.
Meloncati rasa suka dan tak suka."
_Salim A. Fillah
Tuesday, January 13, 2015
Menyelak Rindu
بسم الله الرحمن الرحيم
Ruang ini
ruang kenangan
dan masih.
Ia, seringkali bisa bawa aku jauh
jauh sekali hingga merentasi putaran waktu.
jauh sekali hingga yang tertulis dahulu segalanya tampak begitu hidup.
jauh sekali hingga mampu mengajak aku menyentuh rasa empat tahun yang lalu.
Empat tahun yang lalu, ku kira adalah tahun tahun tarbiyyah.
Tarbiyyah.
Tempoh hari;
"Rasa hati dah tak seindah dulu dah. Kita semakin dewasa sayang. Semua benda kena decide sendiri."
Ini kata kata yang di petik dari pesanan whatsapp tempoh hari.
kata kata seorang sahabat fillah. Seseorang yang dapat melayani dan menerima diri ku dengan sabar dan hati yang terbuka; in my best, and in my worst.
Seseorang yang aku bisa duduk bersamanya tanpa sebarang kata. Kadang diam sahaja di antara kita. Melayani hati masing masing. Namun seolah olah bisa membaca antara keduanya. Lalu kita tersenyum sendiri. Ya, selalunya begitu. Tidak banyak yang diperkatakan. Kita selesa begitu.
Pernah ada yang bertanya;
"Korang borak apa lama lama kat tangga tu sampai subuh?"
atau kalau dia melawat saya di bilik;
"Tak dengar suara apa apa pun. Ingatkan nusaibah sorang je dalam bilik. Rupanya ada tetamu."
Kami sendiri terdiam, karena hakikatnya, kami berbicara dalam diam. Bahasa kita sepi.
Dia. Seorang yang ku gelar dengan panggilan kakak
Dan puisinya ku nama kan Hujan. Dia adalah hujan ku. Hadirnya puitis persis gerimis.
Kakak, malam ini. kulihat jam sudah pukul satu empat belas AM.
Masih ingat, kalau waktu ini kita baru balik dari centre, tentu saja bayang bayang kita saat ini sudah berada di lorong kecil antara blok, bukan? Kalau tidak di situ, mungkin di tangga tangga berdekatan.
Senyum kita diselangi suara perlahan. Diam kita mengira bintang bintang.
-HandsDown-
kakak, saya rindu
fi hifzillah
Saturday, November 16, 2013
Berkisah
بسم الله الرحمن الرحيم
Melihat dia,
aku melihat langit.
Tuhan. Seperti lirihnya hujan menjatuh, seperti itu hati aku jatuh.
Jatuh yang menghidupkan..
-HandsDown-
Subscribe to:
Posts (Atom)
